Rasisme dan Toleransi
Rasisme
Rasisme adalah kepercayaan yang membuat persepsi bahwa manusia ataupun ras yang satu lebih unggul dari ras lainnya berdasarkan perbedaan biologis. Sehingga dengan kepercayaan ataupun persepsi tersebut secara tidak langsung tercipta kasta atau tingkatan antar sesama manusia, seperti menganggap superior ras tertentu.
Rasisme adalah kepercayaan yang membuat persepsi bahwa manusia ataupun ras yang satu lebih unggul dari ras lainnya berdasarkan perbedaan biologis. Sehingga dengan kepercayaan ataupun persepsi tersebut secara tidak langsung tercipta kasta atau tingkatan antar sesama manusia, seperti menganggap superior ras tertentu.
Sekadar
mengingatkan kawan-kawan, bahwa kita terlahir sebagai manusia dengan ciri-ciri
fisik tertentu, seperti warna kulit hitam atau putih, hidung pesek, dan jenis
rambut yang berbeda pula. Semua ciri-ciri fisik tersebut haruslah diakui bukan
merupakan suatu kesalahan atau dosa dari individu tersebut. Manusia mana pun
tidak pernah punya pilihan ketika akan dilahirkan, termasuk lahir dengan
kondisi
Semua
kondisi yang dimiliki manusia semata-mata merupakan takdir Tuhan. Sehingga
bentuk fisik, rambut dan warna kulit kita sebagai manusia adalah hak kuasa
Tuhan yang tidak bisa kita tolak. Tapi mengapa masih saja ada orang atau
kelompok tertentu yang menganggap orang atau ras lain lebih rendah dari ras’nya?.
Berarti secara tidak langsung dia telah menghina Tuhan yang telah menciptakan
semua makhluk dengan sebaik-baiknya.
Seharusnya
keragaman dan perbedaan biologis itu harus dilihat dan dipahami sebagai
kemajemukan ras yang harus saling dihormati dan dihargai, bukan malah
menonjolkan satu superioritas ras tertentu.
Saya
coba berikan contoh kasus rasisme yang sering terjadi di sekitar kita, salah
satunya adalah teriakan ataupun nyanyian para supporter klub sepak bola di
Indonesia yang berisi hujatan ataupun kata-kata yang tidak pantas diucapkan.
Parahnya
lagi hujatan tersebut sering terlontar dari mulut para supporter saat
pertandingan pada kompetisi resmi sepak bola di Indonesia. Selain dapat
memperkeruh kondisi hubungan antar supporter, hal itu juga sangat tidak
mendidik bagi suporter yang masih berusia dini, karena sepak bola merupakan
salah satu olahraga yang disukai oleh lintas usia.
Kita
semua sebagai bagian dari warga negara yang majemuk, seharusnya bisa
menempatkan diri kita pada lingkungan kehidupan masyarakat dengan cara yang
baik dan benar, sehingga bisa mencegah timbulnya rasisme-rasisme dalam konteks
yang lain. Sebelum saya menutup artikel ini, ada 1 pertanyaan yang harus
kawan-kawan renungkan jika ingin menghilangkan rasisme mulai dari hal yang paling
kecil yaitu dari dalam diri kita sendiri.
Toleransi
dalam bahasa Arab dikenal
dengan istilah tasamuh. Secara bahasa toleransi berarti tenggang rasa. Secara
istilah, toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan
antarsesama manusia. Allah Swt. menciptakan manusia berbeda satu sama lain.
Perbedaan tersebut bisa menjadi kekuatan jika dipandang secara positif.
Sebaliknya, perbedaan bisa memicu konik jika dipandang secara negatif.
Toleransi merupakan salah satu akhlak mulia (akhlakul karimah) yang harus
dimiliki setiap muslim. Dengan menjunjung tinggi sikap menghargai perbedaan ini
maka kehidupan masyarakat akan damai dan sejahtera. Oleh karena itu kita harus
menerapkan toleransi dalam kehidupan seharihari baik di lingkungan sekolah, rumah,
maupun masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari toleransi dapat diwujudkan
dengan sikap-sikap sebagai berikut. a. Bergaul dengan semua teman tanpa
membedakan agamanya. b. Menghargai dan menghormati perayaan hari besar
keagamaan umat lain. c. Tidak menghina dan menjelek-jelekkan ajaran agama lain.
d. Memberikan kesempatan kepada teman nonmuslim untuk berdoa sesuai agamanya
masing-masing. e. Memberikan kesempatan untuk melaksana-kan ibadah bagi
nonmuslim. f. Memberikan rasa aman kepada umat lain yang sedang beribadah. g.
Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. h. Mengadakan silaturahmi dengan
tetangga yang berbeda agama. i. Menolong tetangga beda agama yang sedang
kesusahan. Lebih dari itu sikap toleransi kepada sesama muslim harus lebih
diperkokoh. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah saw. dan umat Islam ketika
berada di Madinah. Hubungan persaudaraan antara Muhajirin (kaum muslimin dari
Mekah) dan Ansar (kaum muslimin Madinah) terjalin sangat erat. Kehidupan kedua
golongan itu setiap hari diliputi oleh suasana saling pengertian, saling
membantu dan saling bekerja sama. Apabila seorang dari Ansar memiliki rumah,
maka rumah itu digunakan bersama dengan Muhajirin. Jika Muhajirin memiliki
makanan dan minuman, maka makanan dan minuman itu dibagi dengan Ansar. Dengan
persaudaraan dan toleransi yang tinggi seperti ini maka umat Islam waktu itu
mempunyai ikatan yang kokoh. Rasulullah Saw. mengibaratkan umat Islam sebagai
satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit maka anggota tubuh lain juga ikut
merasakan sakit. Demikian pula dengan umat Islam, jika ada salah seorang
anggota masyarakat muslim mengalami kesulitan maka warga yang lain hendaklah
membantunya. Kepada umat agama lain, Islam juga mengajarkan untuk toleransi.
Dalam Islam tidak ada ajaran supaya membenci atau memusuhi umat agama lain.
Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dalam suasana damai, rukun,
dan saling. Rasulullah Saw. dan umat Islam sudah mencontohkan toleransi
antarumat beragama pada waktu berada di Madinah. Umat Islam, Nasrani, dan
Yahudi diberi kebebasan dan dijamin hak-haknya untuk melaksanakan ibadahnya
masing-masing. Namun perlu diingat bahwa toleransi kepada golongan nonmuslim
hanya terbatas pada masalah-masalah duniawi, seperti kerjasama dalam bidang
ekonomi, sosial budaya, politik dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan
keduniaan. Adapun yang berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah harus sesuai
dengan agamanya masing-masing.
Comments
Post a Comment